fbpx

Blog

Artikel Info

Perbedaan Startup Unicorn, Decacorn, dan Hectocorn

Eksistensi startup di Indonesia mulai berkembang pesat sejak beberapa tahun terakhir.  Startup merupakan perusahaan berbasis teknologi yang sedang dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan target market yang tepat. Startup sendiri memiliki beberapa tingkatan. Namun, yang paling dikenal masyarakat adalah startup Unicorn. Berdasarkan nilai ekonominya, Unicorn merupakan tingkatan yang berada di bawah Decacorn dan Hectocorn.

Ini Bedanya Startup Unicorn Dengan Decacorn dan Hectocorn!

Sebagaimana diketahui standar kesuksesan perusahaan terletak pada besaran nilai ekonominya atau disebut dengan valuasi. Nilai valuasi ditentukan dari sejumlah faktor yang dipertimbangkan. Dengan nilai valuasi, suatu perusahaan atau bisnis akan dianggap memiliki kapasitas terhadap industri. Selain memengaruhi minat investor untuk pendanaan, nilai valuasi juga digunakan untuk menentukan harga jual perusahaan ketika terjadi akuisisi atau merger.

Singkatnya, nilai valuasi adalah nilai ekonomi suatu perusahaan atau bisnis yang memiliki peluang besar untuk berkembang pesat. Valuasi juga menunjukkan besaran nilai perusahaan. Jika nilai valuasi startup sebesar Rp2 miliar, maka perusahaan yang hendak mengakuisisi harus menyediakan dana sesuai nilai valuasinya.

Lantas, apa perbedaan antara perusahaan Unicorn dengan Decacorn dan Hectocorn? Berikut uraiannya.

Unicorn

Julukan Unicorn pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Cowboy Ventures, Aileen Lee dalam artikel “Welcome to the Union Club: Learning from Billion – Dollar Startups”. Sesuai namanya, istilah ini terinspirasi dari kuda mitologi berwarna putih bertanduk satu di bagian dahi. Dinamakan Unicorn karena kehadiran startup yang mampu mencapai level ini cukup langka. Maklum saja, untuk meraih level Unicorn yang berada di atas Centaurs, sebuah perusahaan harus memiliki nilai valuasi sebesar US$ 1 miliar (Rp14.4 triliun).

Kendati nilai valuasi tergolong tinggi, jumlah Unicorn di seluruh dunia mencapai 728 perusahaan. Beberapa startup Unicorn dunia berdasarkan data dari CB Insights terbaru, antara lain WeWork, GitLab, Airtable, Zomato, Bluehole, Yello Mobile, Blackbuck, dan VAST Data. Di Indonesia, terdapat enam perusahaan yang berada di level Unicorn, yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Ovo, J&T Express, dan OnlinePajak.

Tokopedia dan Bukalapak merupakan perusahaan marketplace yang fokus di bidang transaksi jual beli secara daring atau disebut e-commerce. Lain lagi dengan Traveloka menawarkan kemudahan pemesanan hotel, tiket pesawat atau kereta, dan sewa kendaraan serta layanan jasa keuangan, gaya hidup, dan kuliner. Sementara OVO menyediakan layanan dompet digital yang bisa digunakan untuk membayar tagihan, membeli pulsa atau data, serta investasi. J&T Express berfokus di bidang pengiriman logistik, sedangkan OnlinePajak yang baru terdaftar sebagai Unicorn sejak Juli 2021 ini merupakan perusahaan penyedia aplikasi perpajakan online.

Baca juga: Mengenal Jasa Aplikasi E-Office untuk Permudah Birokrasi

Decacorn

Decacorn berasal dari gabungan kata bahasa Yunani “deka” yang artinya sepuluh ditambah dengan akhiran “corn” yang asalnya dari istilah Unicorn. Tidak banyak perusahaan yang mampu berada di level Decacorn, sebab perbandingan nilai valuasi Unicorn dengan Decacorn mencapai 1:10. Artinya, perusahaan yang berhasil masuk daftar Decacorn memiliki nilai valuasi minimal US$ 10 miliar (Rp144 triliun).

Tak heran jika jumlah Decacorn di dunia tergolong sedikit, hanya 32 perusahaan. Menariknya, dari jumlah tersebut, 34.3% perusahaan Decacorn berasal dari Asia Pasifik yang didominasi oleh Tiongkok. Beberapa perusahaan dunia yang telah mencapai level Decacorn, antara lain Stripe, SpaceX, Telegram, Klarna, Canva, Grab, DJI, Shein, dan Bitmain.

Indonesia sendiri baru memiliki satu perusahaan Decacorn, yakni Gojek. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2010 ini mulanya dirintis untuk memberikan kemudahan menembus kepadatan jalanan di Kota Jakarta dengan menyediakan ojek modern yang dapat dipesan melalui call center selama 24 jam. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membenahi dan menyempurnakan layanan Gojek. Aplikasi Gojek sendiri resmi diluncurkan pada Januari 2015. Berbekal aplikasi ini, masyarakat dimudahkan dalam urusan bepergian, memesan makanan, pengataran barang, pembayaran tagihan, dan pembelian pulsa atau data.

Hectocorn

Perusahaan Hectocorn memiliki nilai valuasi seratus kali lebih besar dari Unicorn dan sepuluh kali lebih besar dari Decacorn. Di dunia, sangat jarang perusahaan yang mampu mencapai level ini. Bahkan, terkesan agak mustahil. Maklum saja, perusahaan yang tergolong level Hectocorn harus mempunyai nilai valuasi minimal US$ 100 miliar (Rp1.444 triliun).  

Kendati terdapat segelintir perusahaan yang telah melampaui nilai valuasi tersebut, tidak semua perusahaan dicap sebagai Hectocorn. Pasalnya, level Hectocorn hanya dapat disematkan pada perusahaan startup yang masih berada di tahap pengembangan. Mengingat nilai valuasinya sangat tinggi, hingga kini baru ada satu perusahaan yang tergolong sebagai Hectocorn, yakni ByteDance.

Perusahaan swasta asal Tiongkok yang didirikan sejak 2012 ini dikenal sebagai pengembang aplikasi. Bermula dari aplikasi video pendek bernama Douyin, ByteDance mulai dikenal luas. Di tahun 2018, ByteDance melakukan akuisisi Musical.ly dan merilis TikTok. Meskipun pada awal kemunculannya dilarang di sejumlah negara, kini TikTok menjadi salah satu aplikasi populer yang banyak diunduh oleh pengguna smartphone di seluruh dunia.

Demikianlah informasi singkat mengenai level startup yang perlu diketahui. Dari penjelasan singkat di atas, Anda akan lebih memahami perbedaan antara startup Unicorn, Decacorn, dan Hectocorn. Yuk, bagikan informasi ini supaya lebih bermanfaat!

Image by Mohamed Hassan from Pixabay

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Konsultasikan di nomor Whatsapp Kami